Hasan, Perantau Asal Buton, Mengadu Nasib ke Batam. Pernah jadi tukang parkir hingga mulung di TPS


Tempat pembungan sampah sementara (TPS), di sanalah sampah-sampah rumah tangga dialokasikan. Untuk wilayah Bengkong, salahsatu TPSnya berada di dekat Jembatan daerah Komplek Sei Nayon, dari arah Kantor Kecamatan Bengkong lurus terus ke arah Ocarina tepat sebelah kanan jalan sebelum jembatan.

Setiap hari TPS itu dipenuhi dengan sampah rumah tangga, tempat itu sangatlah kotor dan bau, apalagi disaat hujan, serta lalat beterbangan, baunya menyengat hidung bagi warga yang melewati jalan itu. 

Tempat yang kotor nan bau itu, justru dimanfaatkan oleh Hasan (42) untuk mencari nafkah.


Pantauan Tribunbatam.id di lokasi TPS Bengkong, Kamis (17/12/2020), terlihat banyak tumpukan sampah, TPS itu bau dan sangat kotor, di batang atau dahan pohon yang ada di area TPS banyak sekali lalat yang hinggap, karena saat itu sedang hujan.


Terlihat Hasan sedang memilih dan memilah sampah-sampah rumahan, ia mengenakan helm berwarna hitam, menggunakan mantel, sepatu dan memegang besi untuk mencungkil sampah.



Setiap harinya Hasan menjajah TPS itu untuk mencari sampah rumahan jenis plastik, kardus, kaleng, almunium, besi dan tembaga.


Ia menggunakan sebuah motor butut untuk membawa sampah-sampah kemudian dijual ke penampung.


Hasan adalah seorang perantau asal Sulawesi Tenggara tepatnya di Buton. Ia merantau ke Batam sejak tahun 2008 silam.


Hidup di kota memang tidak mudah, itulah yang Hasan rasakan setelah merantau di Kota Batam.


"Biaya hidup di Kota Batam sangat mahal, makan di warung mahal, barang sembako mahal, mungkin memang begitu kalau tinggal di Kota," keluh Hasan


Pahitnya kehidupan di kota, membawa diri dan keluarganya terpojok hingga di TPS.


"Sebelum mulung, saya sempat kerja jaga parkir. Itu sekira 2 tahun lalu," kata Hasan kepada Tribunbatam.id di TPS Bengkong, Batam, Kamis (17/12/2020)


Namun demikian, ia terpaksa beralih pekerjaan sebagai pemulung, dikarenakan kerja sebagai tukang parkir banyak masalhnya.


"Sebenarnya enak kerja jadi tukang parkir, cuman banyak yang ganggu, ya terpaksalah pekerjaan itu saya tinggalkan dari pada menimbulkan masalah nantinya," curhatnya.


Hasan mengatakan, ia terpaksa kerja sebagai pemulung karena, mencari pekerjaan di Kota Batam sangatlah sulit, sehingga ia terpaksa menjadi pemulung di TPS.


"Susah nyari kerja di Batam Bang, kalau tak ada orang dalam mana diterima sama perusahaan," kata Hasan.


Akhirnya iapun memilih pekerjaan itu,

"Sebenarnya apapun pekerjaannya tak masalah bagi saya Bang, yang penting halal di makan sama anak istri saya," imbuhnya


Hasan memiliki seorang istri dan tiga orang anak, istrinya hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga, dan anak-anaknya ada yang masih bayi dan sekolah.


Anak pertamanya kini hendak masuk sekolah di salah satu SMP yang ada di kawasan rumahnya di RCTI Tanjung Singkuang Batam.


"Sebenarnya anak saya itu sekarang masih belum sekolah, karena tahun kemarin dia baru tamat SD, cuman pas mau lanjut ke SMP duit saya kurang jadi dia nganggur dulu, mudah-mudahan bulan 6 nanti ini saya sudah ada duit jadi dia sudah bisa sekolah di SMP dekat rumah " katanya


Selain itu, anaknya yang nomor 2 masih duduk di bangku SD kelas 2, dan yang bungsu belum sekolah.


Untuk menghidupi istri dan tiga orang anaknya, Hasan rela menjadi seorang Pemulung di TPS  Bengkong itu.


Hasil yang ia dapat dalam satu hari sangatlah kecil, dengan melihat tanggungan terhadap keluarganya.


"Biasanya dapat RP 70 ribu sampai RP 80 ribu," ujarnya


Meskipun demikian, Hasan merasa cukup untuk menghidupi keluarganya.

"Alhamdulillah, meskipun hasil tidak seberapa, yang penting cukup untuk makan anak beranak," ujarnya kembali.


Dari hasil mulung itu, jika banyak ia jual ke PT namun jika sedikit ia jual ke penampung yang ada.


Sampah plastik, ia diupah dengan Rp 2 ribu per kilogram, kardus Rp 1700 per kilogram, kaleng susu Rp 1000 per kilogram, almunium seperti kaleng minuman Rp 14 ribu per kilogram, besi Rp 2 ribu sampai 3 ribu per kilogram dan tembaga Rp 70 ribu per kilogramnya.(ham)


Share:

Pemberdayaan Perempuan Berbasis Social-Preneur dengan Pendekatan Transformatif ABCD

 


ABSTRAK

 

KKN (Kuliah Kerja Nyata) Nusantara 3T dilaksanakan dengan tujuan mengembangkan penelitian yang dimandatkan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia dengan tema Peace Building Mewujudkan Moderasi Beragama Dalam Membangun Indonesia di daerah 3T (Tertinggal, Terluar, dan Terbelakang). Sebagai agen perubahan (agent of change) dan agen pengawasan (agent of control), mahasiswa ikut serta melaksanakan tugas pengabdian. Pengabdian ini dilakukan di Desa Pitay Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT. Penelitian ini menggunakan metode Asset Based Community-driven Development (ABCD) dikaitkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Utomo, Eny, dan Suratna (2009) tentang pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan perempuan berbasis Social-Preneur (Kelompok Usaha Jus Serai Pitay) adalah program yang menjadi target dari kelompok yang ditempatkan di Desa Pitay. Adapun Kelompok Usaha Jus Serai Pitay bertujuan menghimpun dan memberdayakan ibu rumah tangga yang ada di Desa Pitay dengan memanfaatkan aset yang mudah ditemui, yakni tanaman serai. Produk utama yang dihasilkan kelompok ini adalah Jus Serai Pitay (JSP). Dengan adanya program kerja pemberdayaan perempuan berbasis Social-Preneur (Kelompok Usaha Jus Serai Pitay) diharapkan mampu memberikan kontribusi sebuah perubahan di Desa Pitay dari bidang perekonomian, sehingga bisa membantu untuk membangun Indonesia.


 


BAB I

 PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Program pendayagunaan potensi mahasiswa di tengah-tengah masyarakat yang dikenal dengan nama KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan dilaksanakan oleh perguruan tinggi sejak tahun 1950 dengan kegiatan yang disebut dengan Pengerahan Tenaga Mahasiswa. KKN Nusantara 3T dilaksanakan dengan tujuan mengembangkan penelitian yang dimandatkan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia dengan tema “Peace Building Mewujudkan Moderasi Beragama Dalam Membangun Indonesia di daerah 3T (Tertinggal, Terluar, dan Terbelakang).

Sebagai wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi, dalam pengabdian masyarakat memiliki beberapa metode pengabdian, metode yang digunakan dalam pelaksanaan KKN Nusantara 3T ini adalah Asset Based Community-driven Development (ABCD). Metode ABCD ini memiliki fokus dalam program pemberdayaan masyarakat dengan pengembangan aset yang mereka miliki dan masyarakat sebagai pelaku utama yang akan mengarahkan kepada perubahan.

Pelaksanaan KKN Nusantara 3T di Desa Pitay berwujud pemberdayaan masyarakat dengan fokus pemberdayaan perempuan, perlu diketahui bahwa latar belakang pelaksanaan program pemberdayaan perempuan ini adalah dikarenakan kaum perempuan di Desa Pitay lebih banyak memiiki waktu luang ketimbang kaum bapak sesuai data yang kami peroleh pada saat pemetaan aset dan inkulturasi pada minggu pertama, sehingga hal inilah yang melatar belakangi fokus program ini pada pemberdayaan perempuan.

Pemberdayaan perempuan merupakan upaya untuk mewujudkan kesetaraan peran, akses dan kontrol perempuan dan laki-laki di semua bidang pembangunan. Program-program pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat selama ini merupakan upaya untuk senantiasa mewujudkan terciptanya dan terdistribusinya manfaat pembangunan bagi laki-laki dan perempuan secara berimbang. (Agung Utama dkk, 2014)[1]

Pemberdayaan perempuan idealnya pendapat dari muttalib (1993) mencakup tiga hal: (1) capacity building yaitu membangun kemampuan pada diri perempuan, (2) cultural change yaitu perubahan budaya yang memihak kepada perempuan dan (3) structural adjustment yaitu penyesuaian struktural yang memihak perempuan. Upaya pemberdayaan diarahkan pada tercapainya kesejahteraan masyarakat.[2]

Setelah melakukan pemetaan aset di Desa Pitay antara lain dari aset pertanian dan perkebunaan yang dimiliki Desa Pitay iyalah banyak tumbuh tanaman serai, namun belum dimanfaatkan secara optimal olahan dan kandungan manfaatnya. Selama ini serai hanya dijadikan sebagai bumbu masak, dengan melihat kondisi ini maka diperlukan sebuah pengembangan dan inovasi dalam pemanfaatan aset tanaman ini, yang kiranya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Pitay.

Sehingga fokus program kerja dalam pelaksanaan KKN di Desa Pitay adalah pemberdayaan perempuan berbasis Social-Preneur dengan pembentukan kelompok usaha untuk mengelolah Inovasi dari tanaman serai menjadi sebuah produk (Jus Serai), Social-preneur dalam artian kewirausahaan berbasis sosial, sumber daya manusia ini ditanamkan untuk berjiwa enterpreneur yang mampu menggerakkan masyarakat untuk meningkatan kemampuannya agar dapat berdaya saing. Program ini menjadi peluang bagi kaum perempuan Desa Pitay untuk menjadikan jus serai sebagai sumber pendapatan lain di samping dari hasil pertanian dan lain sebagainya. Pemanfaatan serai secara optimal dapat meningkatkan nilai ekonomi dan para perempuan pun dapat berdaya.

 

 

 

B.      Tujuan dan Sasaran Kegiatan

Dengan demikian tujuan dan sasaran program kerja ini yaitu pemberdayaan masyarakat yang lebih fokus pada pemberdayaan perempuan melalui Social-Preneurship dengan pemanfaatan aset dan potensi yang dimiliki desa berupa SDM (kaum perempuan) dan SDA berupa tanaman (serai), peningkatan keterampilan dan  pendapatan masyarakat melalui pemberdayaan perempuan dengan pelatihan kewirausahaan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya adalah peluang bagi perempuan Desa Pitay untuk menjadikan jus serai sebagai sumber pendapatan lain di samping dari hasil pertanian dan lain sebagainya. Pemanfaatan serai secara optimal dapat meningkatkan nilai ekonomi dari tanaman serai itu sendiri dan para perempuan pun dapat berdaya.

Dengan Adanya peran mahasiswa sebagai agent of change dan agent of control, pemerintah dapat mengetahui plus minusnya dalam masyarakat, apalagi di daerah 3T ini, kepedulian pemerintah melalui tangan mahasiswa agar daerah yang seperti Pitay dapat terus maju dan berkembang. 

 

C.     Hasil yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan adalah mengeluarkan SK sebagai dasar hukum yang legal bagi kelompok Jus Serai Pitay  agar terus berkelanjutan, sesuai dengan harapan dari metode yang digunakan (ABCD) yaitu pemberdayaan masyarakat difokuskan pada pengembangan aset yang dimiliki masyarakat dan terus berkelanjutan, sebagai basis utama pengembangan masyarakat, dan tentunya menjadi harapan kami Mahasiswa KKN Nusantara 3T, pemasaran dari produk Jus Serai Pitay bisa sampai keluar desa dan dikenal oleh masyarakat luar, serta mindset dari masyarakat perlahan-lahan berubah dari awal nya tidak begitu peduli dengan pemberdayaan masyarakat terlebih pada pemberdayaan perempuan dengan inovasi-inovasi yang diberikan menjadi partisipatif dan progresif dengan menimbulkan inovasi-inovasi baru.

 

 

D.     Strategi Kegiatan

Adapun tahapan-tahapan kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan pelaksanaan program ini adalah sesuai dengan tahap-tahapan dari Metode Transformatif ABCD, yaitu:

1.     Tahap Inkulturasi

Inkulturasi menjadi tahap yang sangat penting dalam kesuksesan pengembangan masyarakat, Inkulturasi menjadi sebuah keharusan untuk mengurangi sikap penghindaran komunitas mitra atau masyarakat sehingga terbangun trut building, keterampilan berkomunikasi sangat penting dalam tahap ini sebagai contoh (mengikuti shalat berjamaah, karang taruna, gotong royong, mengajar di sekolah, dan kegiatan sosial lainnya)

Tujuan dari tahap ini adalah komunitas mitra atau masyarakat memahami maksud dan tujuan kegiatan yang akan dilakukan mahasiswa dan memiliki pemahaman bahwa masyaraat sendirilah yang akan bergerak mengembangkan komunitasnya, serta membangun kepercayaan masyarakat kepada mahasiswa.

2.     Tahap Discovery

Tahap discovery adalah proses pencarian mendalam tentang hal-hal positif, capaian dan pengalaman keberhasilan di masa lalu. Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan dapat berupa pemetaan aset. Berdasarkan informasi dari tahapan ini, komunitas atau masyarakat perlu merumuskan mimpi bersama yang diharapkan (perumusan visi) melalui hasil pemetaan aset. Dan pelaksanaan tahap ini adalah bersamaan dengan tahap sebelumnya (Inkulturasi) yaitu pada minggu pertama.

3.     Tahap Desain

Setelah mengetahui aset dan mengidentifikasi peluang serta merumuskan visi, orang mulai merumuskan strategi, proses, dan sistem, membuat keputusan dan mengembangkan kolaborasi untuk mewujudkan perubahan sekaligus perumusan program kerja, pelaksanaan tahap ini dilakukan pada minggu ke-dua, Hasil dari tahapan ini adalah terwujudnya rencana kerja yang didasarkan pada apa yang bisa dilakukan bersama berdasarkan aset yang dimiliki.

Tujuan dari dahap Desain ini adalah:

a) Penyadaran akan tindakan yang mungkin dilakukan,

b) Penyadaran akan bagaimana bekerja sama dengan yang lain dan mengkordinir masukan,

c) Keputusan tentang apa yang akan dilakukan berdasarkan sumber daya yang tersedia,

d) Berkurangnya rasa ketergantungan pada pihak luar dalam membuat kemajuan,

e) Lebih tinggi rasa kemitraan dalam kontribusi dari pihak luar termasuk lembaga pemerintah

4.     Tahap Define

Tahap ini merupakan bagian acting on findings. Masyarakat akan bergerak bersama dengan menggunakan aset mereka untuk mencapai visi melalui program kerja yang telah mereka rumuskan, program kerja yang telah dibuat pada tahapan sebelumnya (desain), dilaksanakan pada tahap ini (pelaksanaan program kerja). Tahapan ini dilakukan pada minggu ke-tiga dan ke-empat.

5.     Tahap Refleksi

Pada tahap ini adalah pelaksanaan Monitoring dan evaluasion, data hasil Monitoring & Evaluation sangat diperlukan untuk mengidentifikasi perkembangan dan kinerja outcome, tahap ini penting untuk mengetahui sejauh mana program kerja yang dilaksanakan dengan metode ABCD membawa dampak perubahan pada masyarakat. Tahapan ini dilakukan sejak program kerja dilaksanakan.

 

 


 

BAB II

 PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN PROGRAM

A.    Profil Desa

1.     Potensi Geografis

a)     Tata Geografis

          Pitay merupakan salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Sulamu Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Luas wilayah Desa Pitay 64.000 Ha.

Utara             : Desa Kalali dan Poto, Kecamatan Fatuleu Barat

Selatan          : Desa Teluk Kupan, Kecamatan Sulamu

Timur            : Desa Pantai Beringin, Kecamatan Sulamu

Barat             : Kel. Sulamu & Desa Pantai Beringin, Kecamatan Sulamu

Aspek-aspek geografis yang dimiliki kelurahan Pitay diantaranya:

Unsur fisik

a.     Cuaca

Dalam kondisi normal Kelurahan Pitay memiliki suhu rata-rata hari 36oC. Mengalami 3 bulan musm hujan di bulan Desember, Januari, dan Februari. Tinggi tempat dari permukaan laut 500 mdpl.

b.     Air

Potensi air dan sumber daya air di Kelurahan Pitay sebagai berikut. Jenis sumber air meliputi air sungai dengan debit kecil dan hampir kering, mata air dengan debit sedang, embung-embung dengan debit sedang, dan jebakan air dengan debit kecil. Sumur gali di Kelurahan Pitay berjumlah 13 unit, bisa dimanfaatkan oleh 245 KK, dengan kondisi air yang baik. Sumur bor berjumlah 2 unit. Kondisi 1 unit rusak, dan dimanfaatkan oleh 74 KK dengan kondisi air baik. Embung berjumlah 8 unit, dengan kondisi 1 rusak. Pemanfaatannya untuk 245 KK dengan kondisi air yang baik. Tendon penampung air berjumlah 18 unit, dimanfaatkan 245 KK, dengan kondisi air baik.

c.     Relief      

Permukaan bumi tampak beragam, mulai dari perbukitan, sabana, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Teluk Kupang.

d.     Tanah

Kondisi tanah di Kelurahan Pitay sebagian besar berwarna merah, kuning, hitam, dan abu-abu. Tekstur tanah berjenis lampungan, pasiran, dan debuan. Tingkat kemiringan tanah yang ada sebesar 60o. Terdapat pula lahan terlantar seluas 240 Ha.

Adapun jenis erosi tanhanya, ada tanah erosi ringan seluas 120 Ha, tanah erosi sedang seluas 80 Ha, tanah erosi berat 20 Ha, dan tanah yang tidak ada erosi seluas 20.000 Ha.

Jenis tanah di Kelurahan Pitay ada 4, yaitu tanah kering, tanah perkebunan, tanah fasilitas umum, dan tanah hutan. Adapun macam-macam tanah kering yang ada adalah tegal / ladang seluas 500 Ha, pemukiman seluas 8000 Ha, dan pekarangan seluas 8000 Ha.

Adapun macam tanah perkebunannya ada tanah perkebunan rakyat seluas 1400 Ha, dan tanah perkebunan perorangan seluas 245 Ha. Adapun macam tanah fasilitas umum ada kebun desa 4 Ha, lapangan olahraga 1 Ha, perkantoran pemerintah 1 Ha, bangunan sekolah 5 Ha, fasilitas pasar 1 Ha, dan jalan 1500 m.

Adapun macam tanah hutan ada hutan lindung 22.000 Ha, hutan produksi 34.000 Ha, hutan konservasi 500 Ha, hutan adat 20 Ha, hutan asli 20.000 Ha, hutan mangrove 10.000 Ha, hutan suaka 100 Ha, dan hutan rakyat 700 Ha.

e.     Topografi

Kelurahaan Pitay terletak di dataran rendah seluas 10 Ha, daerah berbukit-bukit seluas 20.000 Ha, dataran tinggi/ pegunungan seluas 20.000 Ha, lereng gunung seluas 10.000 Ha, dan berada di tepi pantai seluas 9.000 Ha.

b)    Tata Ruang

a.     Kawasan di Pitay memiliki aset perumahan dengan kondisi rumah berdinding tembok berjumlah 56 rumah, rumah berkayu dan bebak dinding berjumlah 187 rumah, rumah berlantai keramik berjumlah 28 rumah, rumah berlantai semen 183 rumah, dan rumah berlantai tanah berjumlah 32 rumah. rumah beratap seng berjumlah 212 rumah, dan rumah beratap daun lontar/ gebang/ enau berjumlah 31 rumah.

b.     Taman eden desa pitay seluas 1 Ha dengan tingkat pemanfaatan aktif.

c.     Sekolah Paud 2 unit.

d.     SD Impres Pitay—SMPN 3 Sulamu satu atap.

e.     Posyandu 4 unit.

f.      Rumah bersalin/ polindes 1.

g.     Gereja kristen protestan 2

h.     Lapangan voli 2

i.      Kantor desa dengan kondisi baik, dan aula pertemuan desa dengan kondisi yang masih baru.

c)     Sumber Daya Alam

Banyak potensi Sumber Daya Alam yang dimiliki oleh Desa Pitay diantarnya potensi pertanian, hasil hutan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan bahan galian.

a.     Pertanian

Jenis lahan pertanian menghasilkan tanaman pangan, buah-buahan, dan perkebunan.

b.     Hasil Hutan

Hutan kelurahan Pitay memiliki luas hutan 20.000 Ha milik negara, milik adat/ ulayat 20 Ha, dan milik masyarakat per orangan 245 Ha. Hasil hutannya berupa kayu, madu lebah, bambu, jati, lontar, sarng burung, dan gula lontar. Jenis hutan ada hutan bakau (mangrove), hutan produksi, dan hutan lindung.

c.     Perkebunan

Hasil perkebunan berupa kelor (marungga), jagung, padi, dan kacang-kacangan.

d.     Peternakan

Peternakan yang dibudidayakan di Kelurahan Pitay ada sapi, babi, ayam kampung, kuda, dan kambing. Pakan ternak diperoleh dari rumput gajah, produksi hijauan makanan ternak, dan dipasok dari luar desa.

 

2.     Potensi Demografi

a)     Jumlah Penduduk

Masyarakat Desa Pitay berjumlah 1058 orang, yang terdri atas 531 orang laki-laki dan 507 orang perempuan.

b)    Mata Pencaharian

Tabel 1. Mata pencaharian

Sektor

Jumlah (Orang)

Petani

160

Tukang kebun

12

Peternak

60

Nelayan

60

Pedagang

20

Tukang Kayu

13

Tukang Batu

6

Tukang Sumur

12

Tukang Kue

6

Tukang Rias

1

Karyawan/ perusahaan swasta

14

Karyawan perusahaan pemerintah

15

Pemilik usaha jasa transportasi dan peghubungan

13

Buruh usaha jasa

25

PNS

11

Guru Swasta

10

Pensiunan PNS

1

Sopir

28

Guru Migran

28

Wiraswasta lainnya

24

Tidak bermata pencaharan tetap

22

Jasa Penyewaan Peralatan Pesta

5

 

 

 

 

 




 

 

 

 

 

 

 












c)     Suku Bangsa

Tabel 2. Suku Bangsa

SUKU

JUMLAH

Sabu

4

Rote

1023

Sumba

3

 

 

 

 

 

3.     Potensi Keagamaan

a)     Aliran dan Kepercayaan Keagamaan

Tabel 3. Potensi Agama

AGAMA

JUMLAH

Kristen

1050

Katholik

8

Kepercayaan kepada Tuhan YME

1058

 

 

 

 

b)    Institusi Keagamaan

          Terdapat 2 jamaat gereja yaitu jamaat gereja sion dan jemaat gereja zaytun. Adapun pembagiaan tingkatan usia jemaatnya ada Par (remaja), Pemuda, dan orang dewasa.

c)     Tempat Ibadah

Di desa Pitay terdapat dua tempat peribadatan yaitu Gereja Zaitun di Dusun Pitay dan Gereja Zion di Dusun Oekule.

d)    Kegiatan-kegiatan Keagamaan

Aktivitas keagamaan warga Pitay dilakukan di kedua Gereja yang ada di Dusun Pitay dan Oekule. Adapun bentuk kegiatan keagaman yang telah berjalan rutin adalah adanya sekolah minggu yang diikuti oleh par (anak-anak gereja) baik di gereja Sion maupum Zaitun. Sekolah minggu ini berlangsung untuk mempelajari kidung-kidung jemaat yang diajarkan oleh seorang guru dengan anak-anak par. Terjadi akulturasi selama mahasiswa KKN datang ke Desa Pitay untuk mengisi sekolah mingguan dengan mengajarkan bahasa inggris dan kegiatan menarik lainnya seperti menyanyi, dan bertepuk bersama-sama par. Selain dari kegiatan mingguan oleh Par ada juga kegiatan yang tidak bersifat rutinitas seperti peribadatan kaum bapak, mama/ ibu, dan remaja.

 

4.     Potensi Sosial-Budaya

Tabel 4. Potensi Sosial-Budaya

  

A.

Lembaga Kemasyarakatan Desa/ Kelurahan

Keterangan

1.

Keberadaan LKD

·        Kepengurusan ada

·        Buku administrasi ada

·        Kegiatan tidak ada

B.

Organisasi Anggota Lembaga Masyarakat

Keterangan

1.

LPM

·       Kepengurusan ada

·       Buku administrasi tidak ada

·       Kegiatan ada

2.

PKK

·       Kepengurusan ada

·       Administrasi ada

·       Kegiatan ada


3.

Karang Taruna

·       Tidak ada

4.

RT dan RW

·       Kepengurusan ada

·       Administrasi ada

·       Kegiatan ada

5.

Lembaga Adat

·       Tidak ada

6.

BUMDES

·       Kepengurusan ada

·       Administrasi ada

·       Kegiatan ada

7.

Posyandu

·       Kepengurusan ada

·       Administrasi ada

·       Kegiatan ada

8.

Kelompok tani/ nelayan

·       Kepengurusan ada

·       Administrasi ada

·       Kegiatan ada

9.

Anggur Merah

·       Kepengurusan ada

·       Administrasi ada

·       Kegiatan ada

·       Dasar hukum peraturan desa

 

1.     Potensi Pendidikan

Tabel 5. Potensi Pendidikan

  1. Tingkat Pendidikan Penduduk

JUMLAH

Buta aksara dan huruf latin

76

Usia 3-6 tahun yang masuk TK dan kelompok bermain anak

80

Sedang SD atu sederajat

126

Tamat SD sederajat

144

Tidak tamat SD sederajat

24

Sedang SLTP/ sederajat

82

Tamat SLTP

111

Tidak Tamat SLTP

50

Sedang SLTA

36

Tamat SLTA

47

Tamat D2

1

Sedang S1

18

Tamat S1

50

  1. Wajib Belajar 9 Tahuh

JUMLAH

Penduduk usia 7-15 tahun

82

Usia 7-15 tahun yang masih sekolah

80

Usia 7-15 tahun yang tidak sekolah

11

  1. Rasio Guru dan Murid

JUMLAH

Guru TK dan kelompok bermain anak

2

Siswa TK dan kelompok bermain anak

70

Guru SD dan sederajat

11

Siswa SD dan sederajat

126

Guru SLTP dan sederajat

8

Siswa SLTP dan sederajat

82

Siswa SLTA dan sederajat

36

  1. Kelembagaan Penddikan Masyarakat

JUMLAH

Perpustakaan desa atau kelurahan

1

Taman bacaan desa atau kelurahan

1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A.    Pelaksanaan Program

Untuk mencapai perubahan pada masyarakat Desa Pitay, kita telah meng-agendakan beberapa program kerja yang dijalankan dengan metode pendekatan Transformatif ABCD, yaitu pemberdayaan perempuan berbasis Social-Preneurship (Kelompok Usaha Jus Serai Pitay) dimana sebelumnya masyarakat telah menyepakati dan memutuskan program ini akan dijadikan program utama di Desa Pitay.

Program ini dijalankan dengan fokus pemberdayaan perempuan yang ada di Desa Pitay untuk mengolah potensi sumber daya alam (serai) yang melimpah di desa. Adapun pelaksanaan program kerja ini melalui beberapa tahapan sebagai berikut:

Tabel 6. Jadwal Pelaksanaan Program Pemberdayaan Perempuan (Kelompok Usaha Jus Serai Pitay)

NO

PROGRAM KEGIATAN

WAKTU

SASARAN

LOKASI

PENANGGUNG JAWAB

1.

Sosialisasi dan Simulasi pembuatan Jus Serai Pitay

 

 

 

 

 

22 Januari 2020, dan 23 Januari 2020

Kaum perempuan (mama-mama)

Rumah Bapak Ade di Dusun IV

Dan

Rumah Bapak Kepala Desa di Dusun 1

Muhammad Ilham, Jihannita, Indah Dwi Safitri

2.

Forum Group Discussion (FGD) Pembentukan pengurus Kelompok Usaha Serai Pitay

27 Januari 2020

Perangkat Desa, kaum Perempuan (mama-mama)

Aula Balai Desa Pitay

Muhammad Ilham, Ahmad Triyono

3.

Penjualan Produk JSP part 1 di Desa Bipolo dalam rangka Pameran Budaya

1 Februari 2020

Masyarakat di Desa Bipolo

Balai Desa Bipolo

Muhammad Ilham, Mince Suik (ketua Kelompok)

4.

Penjualan Produk JSP part 2 di Desa Pitay dalam rangka Kemping Pramuka tingkat SMA se-Kecamatan Sulamu

9 Februari 2020

Seluruh peserta kemping dan masyarakat Desa Pitay

Jalan Merdeka Desa Pitay

(lokasi Kemping)

Muhammad Ilham, Indah Dwi Safitri, An Nisa dan Pengurus Kelompok Usaha Serai Pitay

5.

Lounching produk JSP dan Penyerahan SK dalam Grand Closing KKN Nusantara 3T Desa Pitay

12 Februari 2020

Pengurus Kelompok Usaha Serai Pitay, Perangkat Desa dan Masyarakat

Aula Balai Desa Pitay

Muhammad Ilham

6.

Pengenalan, Presentasi, dan pengajuan proposal  Produk JSP ke Gubernur NTT pada saat Penutupan KKN NUSANTARA 3T

14 Februari 2020

Seluruh tamu undangan

Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT

Seluruh Mahasiswa Kelompok III Desa Pitay

 

1.     Desain terkait konsep JSP (Jus Serai Pitay)

Melimpahnya tanaman serai di Desa Pitay yang selama ini hanya dijadikan sebagai bumbu masak dan selain itu sebelum dimanfaatkan tanaman serai seringkali mati akibat dimakan oleh ternak warga yang dibudidaya dengan lepas, sehingga cukup menjadi alasan mengapa tanaman serai ini cocok dijadikan sebagai olahan inovasi menjadi jus yang sehat.

Konsep yang coba ditawarkan ialah dengan menawarkan sebuah produk inovasi minuman serai yang menyehatkan (Jus). Konsep dibuat oleh mahasiswa KKN Nusantara yang merupakan konsep pengembangan dari hasil KKN Reguler STAIN Sultan Abdudrrahman Kepulauan Riau Berbasis Pemberdayaan Masyarakat (SISDAMAS) melalui persetujuan kepala desa, kepala dusun dan perwakilan Rt/Rw yang hadir maka dibentuklah kelompok usaha pemberdayaan perempuan dengan memanfaatkan olahan inovasi tanaman serai (Jus).

2.     Sosialisasi

Tahapan sosialisasi dimulai dengan melaksanakan demo atau simulasi pembuatan Jus Serai sambil penjelasan manfaat yang terkandung di dalamnya. Sosialisasi dipilih untuk dilaksanakan di Dusun 1 Oekule dan 4 Pitay. Tempat sosialisasi ini diputuskan berdasarkan melimpahnya serai yang ada di dusun 1 dan 4 dibandingkan di dusun 2 dan 3. Adapun pelaksanaan sosialisasi pada tanggal 22 Januari di Dusun 4 rumah warga bapak Ade dan 23 Januari di Dusun 1 rumah Bapak Kepala Desa Yermi Yacob Ndun.

3.     Pembentukan kelompok usaha serai

Setelah mencapai kesepakatan untuk melalukukan program kerja pemberdayaan perempuan dengan pengolahan inovasi tanaman serai, pada tanggal 27 Januari dilaksanakan Forum Group Discussion (FGD) bersama masyarakat dan aparat pemerintah Desa. Hasil FGD di antaranya membentuk dan menetapkan struktur kepengurusan Kelompok Usaha Serai mulai dari ketua kelompok, wakil, sekretaris, bendahara dan anggota. Kemudian menyusun SK sebagai bentuk kelegalan kelompok usaha serai ini nantinya, dan RAB kelompok usaha serai secepat mungkin guna melengkapi bahan dasar dalam pembuatan olahan inovasi jus serai, sekaligus pembuatan proposal bantuan yang nantinya akan diajukan ke Gubernur NTT pada kegiatan penutupan KKN Nusantara 3T di Provinsi NTT.

Kemudian dilanjutkan (FGD) lanjutan untuk Penyusunan SOP Kelompok Usaha Serai yang terdiri atas pembentukan Garis Besar Haluan Kelompok (GBHK), pembentukan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART), selain itu pembentukan dan penetapan logo untuk Kelompok Usaha Jus Serai dan lebel merek produk ditetapkan dengan nama Jus Serai Pitay (JSP).

4.     Operasional, packaging, dan pemasaran.

Tahap operasional pertama kali ditempuh dengan iuran dari anggota kelompok usaha, meski demikian hal ini akan tertutupi dengan pengajuan proposal bantuan ke pemerintahn Desa Pitay dan ke Gubernur NTT pada saat penutupan KKN Nusantara 3T. Untuk packaging produk Jus Serai Pitay (JSP) sendiri terdiri atas 2 jenis. Satu berupa cup minuman yang dijual seharga Rp. 5.000,- per cup, dan botol ukuran 320 ml dijual seharga Rp. 7.500,-. Di luar kemasan terdapat stiker terkait logo produk JSP, sebagai bentuk promosi dan pemasaran juga.

Pemasaran produk JSP ini direncanakan ada 2 jenis, yaitu diproduksi secara rutinan (seminggu sekali) dan insidental (setiap ada event di desa, maupun event besar lainnya).

Pemasaran produk JSP telah dilakukan pada event Pameran Budaya Desa Bipolo dan di Desa Pitay dalam rangka Kemping Pramuka tingkat SMA se-Kecamatan Sulamu kemudian dilanjutkan pada saat penutupan KKN Nusantara 3T oleh Gubernur NTT di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT sekaligus penyerahan proposal bantuan kepada bapak Gubernur.

 

B.    Permasalahan yang Dihadapi

Dalam pelaksanaan program kegiatan KKN ini terdapat beberapa faktor, baik itu faktor pendukung maupun faktor penghambat, adapun faktor pendukung dalam pelaksanaan program kegiatan dan KKN ini bisa berjalan dengan baik dan lancar adalah sebagai berikut:

1.     Dukungan yang kami dapat dari perangkat Desa dan masyarakat terhadap program kegiatan yang telah disepakati bersama pada saat berjalannya KKN dengan Pendekatan Transformatif ABCD,

2.     Jalinan komunikasi dan silaturahmi yang baik pada saat tahapan Inkulturasi hingga tahap Refleksi sehingga memudahkan untuk melaksanakan program kegiatan,

3.     Hubungan kedekatan antara mahasiswa KKN dengan masyarakat yang sudah seperti keluarga,

4.     Antusias masyarakat dalam melaksanakan program kegiatan, dan

5.     Terjalinnya kerja sama antar mahasiswa kelompok 3 di Desa Pitay.

Adapun faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam pelaksanaan program kegiatan dan KKN ini di antaranya adalah :

1.     Kesibukan masyarakat dalam melakukan aktifitas berkebun dan bercock tanam yang sudah menjadi rutinitas masyarakat di bulan desember hingga februri, sehingga menyulitkan untuk melakukan pertemuan atau perkumpulan yang maksimal dalam sosialisasi.

2.     Jarak tempuh yang lumayan jauh kadang membuat mama-mama tidak ingin mengikuti kegiatan sehingga kami melakukan sosialisai yang berkali-kali di tempat dan lokasi yang berbeda.

 

C.    Pembahasan

Hasil pengabdian mahasiswa KKN Nusantara 3T di Desa Pitay berwujud pemberdayaan masyarakat dengan fokus pemberdayaan perempuan. Pemberdayaan perempuan merupakan upaya untuk mewujudkan kesetaraan peran, akses dan kontrol perempuan dan laki-laki di semua bidang pembangunan. Program-program pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat selama ini merupakan upaya untuk senantiasa mewujudkan terciptanya dan terdistribusinya manfaat pembangunan bagi laki-laki dan perempuan secara berimbang.

Program kerja yang telah dipilih dan dilaksanakan adalah pemberdayaan perempuan berbasis Social-Preneur (Kelompok Usaha Jus Serai Pitay), Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan perempuan di Desa Pitay dengan memanfaatkan tanaman serai menjadi olahan jus yang menyehatkan produk ini diresmikan dan dilegalkan dengan nama “Jus Serai Pitay”. Kegiatan ini juga mengetahui sejauh mana ABCD membawa dampak perubahan, selain menjadikan metode ABCD sebagai pendekatan kegiatan ini juga berbasis social-enterpreneurship yang mana menjadi sangat penting mengingat keuntungan yang diperoleh bukan hanya untuk kepentingan individu saja tetapi lebih ditujukan untuk kemakmuran masyarakat, hal ini juga telah dianggap sejalan dengan tema dari KKN Nusantara 3T yaitu “Peace Building Mewujudkan Moderasi Beragama Dalam Membangun Indonesia di daerah 3T (Tertinggal, Terluar, dan Terbelakang)”. Oleh sebab itu harus terus diupayakan munculnya sociopreneur-sociopreneur baru agar masyarakat semakin berdaya dan sudah barang tentu membantu membangun Indonesia.

Program pemberdayaan masyarakat berbasis social-preneurship sesuai untuk memanfaatkan potensi tanaman desa dengan sumberdaya manusia di Desa Pitay. Langkah-langkah yang dilakukan menggunakan metode (ABCD) dengan tahapan (Inkulturasi, Discovery, Desain, Define, dan Refleksi), selain dari itu langkahnya juga mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Utomo, Eny, dan Suratna (2009)[1] tentang pemberdayaan masyarakat, sebagai berikut:

1.     Pelatihan

2.     Focus Group Discussion

3.     Bantuan Pemasaran

4.     Pendampingan

5.     Pengukuran efektivitas socioprenourship.

Focus Group Discussion (FGD) dilakukan untuk membahas permasalahan dalam proses berjalannya produksi sampai pembagian keuntungan “Jus Serai Pitay” secara lebih mendalam melalui diskusi. Kegiatan ini sangat penting karena permasalahan dapat dipaparkan dalam diskusi. Melalui kegiatan ini dapat dirumuskan secara bersama-sama pembentukan program melalui kegiatan yang kreatif. Perubahan-perubahan yang akan dilakukan telah mendapatkan kesepakatan dari perempuan Desa Pitay sehingga akan terbentuk komitmen yang kuat untuk maju.

Pelatihan diberikan untuk memberikan pengetahuan dan menarik minat dari olahan jus serai yang mengandung banyak manfaat bagi tubuh umenjadi minuman yang menyehatkan dan dapat menjadi nilai pendapatan bagi keluarga mereka. Pemberdayaan perempuan ini untuk meningkatkan keterampilan dan memanfaatkan tanaman serai tidak hanya untuk bumbu dapur saja.

Bantuan pemasaran juga diberikan, baik pemasaran tradisional maupun pemasaran melalui media online. Kegiatan pemasaran dimulai dari spesifikasi produk, penentuan merek produk, penentuan harga pokok produksi, penentuan harga jual, pengemasan, alat promosi, sampai dengan menjalin relasi bisnis yang lebih luas. Disamping itu, juga disediakan tempat untuk menjual hasil produknya secara semi permanen.

Pendampingan bisnis dilakukan untuk memastikan semua program yang direncanakan dapat berjalan secara efektif. Kendala-kendala di lapangan yang dijumpai dapat segera diatasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal. Pendampingan ini mulai dari produksi olahan Jus Serai Pitay, sistem operasional produk dan kelompok, pengemasan produk, pemasaran sampai pembagian keuntungan dalam kelompok usaha serai. 

Efektivitas social-preneur dapat diukur dengan berkurangnya permasalahan yang dihadapi masyarakat. Disamping itu juga keberlanjutan program harus terjamin. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara umum social-preneur yang dikembangkan di Desa Pitay dinilai berhasil. Hal ini diterima baik oleh masyarakat dan kelompok usaha serai yang merasakan secara langsung manfaat kegiatan ini.

Masyarakat mulai mengerti pentingnya inovasi olahan serai selain untuk bumbu dapur semata. Selanjutnya terjadi perubahan tidak hanya pada mind set masyarakat terkait pemanfaatan serai selain untuk bumbu dapur, tetapi diharapkan juga akan membawa perubahan perekonomian warga desa Pitay secara  keseluruhan melalui usaha Jus Serai Pitay (JSP) yang dikelola oleh kelompok usaha serai pitay.

Pendampingan kelompok usaha serai pitay ini dimulai sejak tahap sosialisasi awal terkait prosedur pembuatan Jus Serai Pitay (JSP) yang dilaksanakan di Dusun 1 Oekule dan Dusun 4 Pitay. Tempat sosialisasi ini diputuskan berdasarkan melimpahnya serai yang ada di dusun 1 dan 4 dibandingkan di dusun 2 dan 3. Pelaksanaan sosialisasi pada tanggal 22 Januari di Dusun 4 dan 23 Januari di Dusun 1. Antusiasme yang sangat tinggi terlihat dari mama-mama yang mengikuti kegiatan sosilisasi sampai selesai.

Tahap pendampingan berlanjut sampai pada pembentukan kelompok usaha serai yang beranggotakan kelompok perempuan desa Pitay. Kelompok usaha serai terdiri atas 9 orang dan diresmikan serta dilegalkan pada grand closing  KKN Nusantara 3T di Kantor Desa Pitay Kecamatan Sulamu Kabupaten Kupang dengan penyerahan Surat Keputusan Kepala Desa Pitay Nomor: 043/07/DP/II/2020.

Respon dari masyarakat terhadap kegiatan pendampingan dan pemberdayaan perempuan yang diberikan oleh mahasiswa KKN, membawa antusiasme yang tinggi bagi ibu-ibu dalam mengikuti kegiatan tersebut, sehingga kegiatan ini perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk membantu masyarakat terutama perempuan di Desa Pitay dalam meningkatkan kesejahteraannya melalui manajemen usaha kecil. Dengan adanya kegiatan ini masyarakat merasa sangat terbantu dari aspek manajemen usaha dan  bimbingan teknis yang dilakukan dengan pemaparan sistem operasional dalam kelompok, produksi, pengemasan produk, pemasaran sampai pembagian keuntungan kelompok usaha ini. Kegiatan pendampingan dan pemberdayaan ini terhadap usaha produk Jus Serai Pitay ini merupakan cara yang tepat untuk membantu masyarakat dalam menambah pendapatan keluarga.

Setelah melihat hasil program kerja tersebut pada hasil dari tahapan Refleksi (Monitoring dan Evaluasi) terdapat perubahan besar yang terjadi di masyarakat, perubahan yang signifikan dapat terlihat dari pemanfaatan tanaman serai sebelum dan sesudah adanya kelompok usaha ini. Serai berinovasi menjadi minuman kesehatan yang lebih bernilai ekonomi tinggi dibandingkan hanya dimanfaatkan sebagai bumbu masak. Selain itu semangat masyarakat untuk membudidayakan serai semakin tinggi. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan semangat dan motivasi kelompok usaha serai untuk memproduksi lebih banyak produk minuman sehingga membutuhkan sumber daya alam berupa tanaman serai dengan volume yang besar juga. 

 


 

BAB III

 PENUTUP

A.    Kesimpulan

Pelaksanaan program kerja di Desa Pitay berfokus pada pemberdayaan perempuan berbasis Social-Preneur (Kelompok Usaha Jus Serai Pitay), dengan memanfaatkan aset dan potensi desa. Hal ini dilakukan telah sesuai dengan metode yang digunakan yaitu Asset Based Community-driven Development (ABCD).

Program yang sudah dibangun oleh mahasiswa diharapkan dapat menunjang perekonomian bagi masyarakat pitay yaitu olahan tanaman serai menjadi produk JSP “Jus Serai Pitay”, masyarakat Desa Pitay telah mampu melakukan produksi olahan tanman serai secara mandiri.

Mahasiswa juga memberikan pendampingan mengenai sistem kerja kelompok sebaik mungkin mulai dari kegiatan operasional, pemasaran, dan pembagian keuntungan. Selain itu, jalur diplomasi juga telah berhasil ditempuh dengan meminta pemerintah Desa menerbitkan SK Nomor: 043/07/DP/II/2020 tentang penetapan kelompok Jus Serei Pitay (JSP) sebagai kelompok pemberdayaan industri rumahan yang sah dan legal dalam Desa Pitay untuk boleh mengusulkan dan menerima bantuan baik dari pemerintah maupun dari LSM. Hal tersebut dilakukan supaya gerak kelompok ke depan mendapatkan pendampingan dari pihak desa.

Kegiatan KKN Nusantara 3T dengan menggunakan metode (ABCD) telah memberikan dampak perubahan pada masyarakat terutama bagi Desa Pitay sebagai tempat dialokasikannya kelompok 3 dengan program kerja utamanya “Pemberdayaan Perempuan Berbasis Social-Preneur (kelompok usaha Jusa Serai Pitay). Hal ini dilihat dari hasil pemberdayaan yang sangat membantu perokonomian masyarakat terutama anggota kelompok usaha ini, selain itu dampaknya juga kepada masyarakat secara umum, dengan peningkatan produksi JSP (Jus Serai Pitay) tentu membutuhkan bahan dasar yang banyak yaitu serai, maka dari itu terjadilah penggalakan penanaman tanaman serai kepada masyarakat yang nantinya akan diolah dan dijadikan produk JSP, sudah barang tentu ini sangat membantu masyarakat Desa Pitay secara umum dibidang  perekonomian.

 

B.    Saran

1.     Untuk Mahasiswa KKN Nusantara 3T Desa Pitay dan Mahasiswa yang akan melaksanakan KKN

a)     Perlu adanya koordinasi dan kerjasama yang baik antar individu dan kelompok, sehingga program kerja dapat berjalan lebih baik dan lancar.

b)    Setiap individu harus mempunyai niat dan tujuan serta keikhlasan dalam membantu bekerja sama untuk kelompok, mempunyai rasa tanggung jawab yang besar, sehingga perlu adanya kesiapan fisik terlebih mental agar KKN tersebut dapat berjalan dengan baik,

c)     Egosentris yang berasal dari individu kelompok harus ditahan agar kerja sama tetap berjalan dengan baik, dan harus mementingkan kepentingan kelompok dari pada kepentingan pribadi dengan kacamata skala prioritas.

2.     Untuk panitia pelaksana KKN Nusantara 3T

a)     Perlu adanya persiapan yang matang serta adanya pelatihan yang dianggap cukup.

b)    Waktu yang diberikan untuk melaksanakan KKN Nusantara 3T dengan metode Transformatif ABCD ini harus lebih panjang dan lebih lama sekitar satu bulan setengah atau dua bulan. Agar setiap tahapan dalam metode ABCD ini bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan harapan.

c)     Livingcost perlu di tambah untuk mahasiswa KKN Nusantara 3T berikutnya

 

3.     Untuk Desa Pitay

a)     Dukungan pihak Pemerintah Daerah terhadap adanya mahasiswa KKN hendaknya ditingkatkan lagi dalam bentuk bantuan materiil maupun non materiil.

b)    Ada follow up (tindak lanjut) dari Pemerintahan Desa Pitay terhadap terhadap program kegiatan KKN yang telah diselenggarakan berupa pendampingan.

c)     Agar didukung oleh lembaga ekonomi pemerintahan seperti Disperindag agar kegiatan yang telah berjalan menjadi program kerja dan juga dipromosikan secara bersama-sama dan dilanjutkan dan dikembangkan bersama agar menjadi yang lebih besar.

d)    Agar selalu memberikan pelatihan pemberdayaan lainnya serta menciptakan inovasi-inovasi baru yang mampu meningkatkan nilai perekonomian desa.

 


1.      

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Muttalib, J.A. Bahan Pelatihan Jender dan Pembangunan. Menggunakan Kerangka Pemampuan Wanita, dalam Moeljarto Tjokrowinoto, dkk. (1993)

 

Utama, Agung. “Model Pemberdayaan Perempuan Miskin Melalui Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Potensi Lokal.” Jurnal Penelitian Humaniora 19, no. 2 (October 2014).

 

Utomo et al., “Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Untuk Pengentasan kemiskinan Melalui Inkubator Bisnis” (2009).


 [1] Utomo et al., “Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Untuk Pengentasan Kemiskinan Melalui Inkubator Bisnis” (2009).


[1] Agung Utama, Model Pemberdayaan Perempuan Miskin Melalui Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Potensi Lokal, Jurnal Penelitian Humaniora 19, no. 2 (October 2014).

[2] Muttalib, J.A, Bahan Pelatihan Jender dan Pembangunan. Menggunakan Kerangka Pemampuan Wanita, dalam Moeljarto Tjokrowinoto, dkk. (1993)

Share:

Label

Recent Posts